Minggu, 01 April 2012

hujan dini hari



semalam dini hari
hujan turun lumayan deras
basahi pelataran rumah
padahal ini masih sangat awal

memang dari sore sudah mendung
bahkan dari beberapa hari sebelumnya
mendung datang silih berganti
terkadang cerah lalu tiba tiba gelap

tetapi semalam dini hari
hujan turun lumayan deras
dengan selingan beberapa guntur
dan angin yang menerpa tirai kamar

kutahu kenapa hujan turun
seminggu yang lalu
saat malam sedang cerahnya
sekumpulan burung terbang bernyanyi
berputar mengitari langit jakarta
membelah langit hiasi angkasa
tak bosan habisi hari
membuat jenuh se-isi bumi

tapi keesokannya burung burung tak kembali
membuat rindu se-isi bumi
timbulkan sedih dalam hati
itulah sebabnya kenapa semalam dini hari hujan turun
karena tak kuat menahan rindu akan kicau burung

genangan air sudah se-mata kaki
hujan tetap turun, tapi mulai surut
gemuruh petir pun mulai reda
angin pun pergi kearah laut tenggara
hingga akhirnya hujan pun benar benar telah reda
dan langit kembali cerah bertaburan bintang
tapi akankah burung burung kan kembali berkicau
seperti seminggu yang lalu


samping rumah  18 1 2012     20.52

dibalik tembok itu



tembok kini sudah berdiri kekar
rapat dan rapih tanpa celah
dari batas stasiun sampai pintu kereta pasar lama

ketika kau turun dari kereta
kau takkan mampu melihat
sekuat apapun usaha mu
tembok itu telalu tinggi

walaupun kau sangat bersemangat
ketika melangkah keluar rumah
ketika mengunakan sendalmu yang berwarna ungu
bahkan ketika kau menaiki kereta

kutahu kau sangat meng-inginkannya
dari malam sebelumnya waktu pesan itu tiba
wajah mu berkata seperti itu
meski lisan mu mengatakan sebaliknya

setinggi apapun kau melompat
sekeras apapun hingga kau berkeringat
kau takkan mampu mencari ku tuk melihatku
walaupun sebenarnya aku pun berdiri dibalik tembok itu


6 1 2012    22.27

aku mengerti



siang itu diatas bukit dibawah pohon jambu
saat sedang duduk dengan buku dan pulpen ku
baru sekitar 3jam setengah
dengan buku yang masih kosong, polos, bersih

dan tiba tiba saja kau datang
merebut pulpen yang sedang kupegang
mencoret coret buku ku hingga hampir penuh
dan (kemudian) pergi begitu saja

tanpa berubah posisi dudukku
begong, merasa aneh
ada apa yang sebenarnya terjadi
tiba tiba datang, dan tiba tiba saja pergi

coretan itu kacau tidak karuan
seperti gulungan benang yang berantakan
tatapan ku kosong melihat hasil coretan mu
dalam sekejap selembar kertas itu penuh coretan

ku coba ikuti garis itu perlahan
lama, sedikit demi sedikit
ada yang lurus, ada yang belok belok
dan aku tetap tanpa kata kata

sampai pada saat tertentu
ku mulai paham, ada gambar yang indah disana
gambar yang unik yang bersambung sambung

turun hujan dengan deras nya
aku masih terduduk diam menikmati gambarmu
tintanya mulai luntur sedikit demi sedikit
dan akhirnya hilang sama sekali

bersih sudah kertas dalam bukuku dari coretanmu
tetapi kertas yang basah itu tidak akan bisa seperti awalnya yang mulus dan halus



4 1 2012     20.53